Latest News

NASA Menemukan Banyak Portal Ruang Waktu di Luar Angkasa

Posted by beye on Jumat, 16 Agustus 2013 , under | komentar (0)




Selama ini, portal yang menghubungkan ruang dan waktu antara bumi dan sebuah alam lain hanya dijumpai pada film-film fiksi ilmiah. Bisa jadi, hal yang seolah hanya khayalan tersebut akhirnya jadi kenyataan. Kabarnya, NASA telah menemukan banyak portal  antara bumi dan matahari.

Pengamatan oleh pesawat ruang angkasa NASA THEMIS menunjukkan bahwa portal magnetis tersebut terbuka puluhan kali setiap hari. Mereka biasanya terletak beberapa puluh ribu kilometer dari Bumi.  

Ilustrasi  portal imajinasi
 
Sebagian besar portal kecil dan berumur pendek, yang lain menguap, luas, dan berkelanjutan. Ton partikel energik dapat mengalir melalui bukaan, pemanasan atmosfer atas bumi, memicu badai geomagnetik, dan memicu polar aurora.

"Kami menyebutnya X-poin atau wilayah difusi elektron," jelas fisikawan Jack Scudder dari University of Iowa. "Mereka menjadi tempat bagi medan magnet bumi terhubung ke medan magnet Matahari, menciptakan jalur dari planet kita sendiri untuk atmosfer matahari 93 juta mil jauhnya."

Guna menindaklanjuti hasil penelitian Scudder dan rekan, NASA merencanakan misi yang disebut "MMS" - Magnetospheric Multiscale Mission, yang akan diluncurkan pada tahun 2014 untuk mempelajari fenomena portal.  Empat pesawat ruang angkasa dari MMS akan disebar di magnetosfer bumi, mencari dan mengamati cara kerja portal-portal tersebut.

Masalah yang harus dihadapi adalah, portal  magnetik tidak terlihat, tidak stabil, dan sulit dipahami. Mereka membuka dan menutup tanpa peringatan "dan tidak ada rambu-rambu untuk membimbing kita kedalam," catatan Scudder.

Wuih, penjelajahan ke dunia masa depan siap dimulai!

Sumber:
nasa.

Inilah Fakta Baru yang Diungkap Curiosity Selama 1 Tahun di Mars

Posted by beye on Kamis, 15 Agustus 2013 , under | komentar (0)



Menjalankan misi selama setahun di Mars, kendaraan antariksa Curiosity berhasil mengungkap fakta-fakta. Fakta baru itu beragam, mulai dari yang memberikan tanda pernah adanya kehidupan, memaparkan bahaya hidup di Mars, hingga kemiripan Mars dengan Bumi.

Apa saja fakta-fakta baru yang diungkap Curiosity tersebut? Berikut pemaparannya seperti dirangkum Discovery dan terus diikuti oleh Kompas.com sepanjang misi Curiosity selama setahun terakhir.


Pemandangan Mars Mirip Bumi

Segera setelah mendarat, Curiosity segera mengirimkan foto-foto pertamanya. Salah satu yang mengagumkan diambil pada 8 Agustus 2012, menggambarakan betapa Mars mirip dengan wilayah gurun di Bumi. Melihat foto itu, mungkin saja ada yang berpikir bahwa pendaratan Mars adalah palsu.

Selain foto itu, Curiosity lewat akun Twitter-nya yang dikelola pihak Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) juga memublikasikan foto pertama yang dijepret, foto berwarna pertama, dan foto pertama Mars pada malam hari. NASA mengembangkan panorama 360 derajat Mars.



Foto-foto pertama yang berhasil diambil robot Curiosity. Foto di bagian kiri menunjukkan bayangan Curiosity sementara bagian kanan menunjukkan Curiosity dengan salah satu rodanya. | NASA




Wahana Curiosity menangkap foto pertama Mars pada malam hari pada Selasa (22/1/2013). Obyek fotonya adalah batu "Sayunei" yang sebelumnya telah dicukil. | NASA




Jejak penjelajahan Curisoity pertama dalam foto berwarna. | NASA



Batu Jake Mirip Batu di Bumi

Setelah beberapa minggu berada di Mars, Curiosity mulai menganalisis batu Jake. Hasil analisis mengungkap bahwa batu Jake memiliki kemiripan dengan batu di Bumi, terbentuk lewat peristiwa vulkanik serta memiliki mineral yang juga dimiliki batu di Bumi.


Batu Jake Matijevic di Mars. Analisis oleh dua piranti robot Curiosity menunjukkan bahwa batu ini secara kimia serupa dengan batu di Bumi. | NASA



Tanah Mars Sama dengan Tanah di Hawaii

Pada November 2012, Curiosity telah sampai di wilayah Mars yang disebut Rocknest. Di wilayah itu, Curiosity menganalisis tanah Mars. Diketahui kemudian, tanah Mars memiliki komposisi mineral mirip dengan tanah di Hawaii.


Citra hasil analisis sampel tanah Mars oleh instrumen CheMin robot Curiosity. Analisis menunjukkan, tanah mars memiliki kristal dengan kandungan feldspar, pyroxene dan olivine serta kandungan non kristal. Warna dalam gambar menunjukkan intensitas sinar X, dengan warna merah sebagai yang paling intens. | NASA



Bukti Adanya Air di Mars

Curiosity mengungkap adanya kerikil Mars yang berbentuk melingkar. Ilmuwan yang terlibat proyek Curiosity mengatakan, kerikil tersebut merupakan bukti terkuat adanya air di Mars. 


Jejak Aliran Air di Mars yang diambil dengan lensa kamera Mastcam milik Curiosity pada 14 September 2012 dan dirilis oleh NASA pada 27 September 2012. | NASA



Mineral Mars

Analisis pada batu "John Klein" mengungkap bahwa Mars memiliki mineral yang terbentuk dengan keberadaan air. Batu tersebut mengandung mineral tanah liat dan sulfat. Diduga, Mars juga pernah punya sumber air minum.

Riset lain yang dilakukan oleh wahana antariksa Opportunity juga mengungkap bahwa Mars punya air yang bisa diminum. Opportunity dalam observasi di Kawah Endeavour menemukan adanya tanda bahwa Mars punya air dengan pH netral.


Serbuk batu John Klein, bukti keberhasilan pengeboran wahana antariksa Curiosity di Mars. | NASA



Kawah Endeavour | Wikipedia



Atmosfer Planet Mars

Curiosity mengungkap bahwa dahulu Mars pernah memiliki atmosfer tebal. Namun, karena tak mampu mempertahankan gasnya dari radiasi Matahari, atmosfer planet merah itu perlahan menipis. Hal ini kemudian berpengaruh pada kemampuan Mars mendukung kehidupan.



Sisi Bahaya Mars

Mars memang terkonfirmasi punya air. Namun, Mars juga punya senyawa beracun seperti sulfat yang bila terhirup akan sangat berbahaya, serta perklorat. Belum lagi, radiasi Matahari di Mars yang sangat berisiko bagi manusia.



Fenomena Astronomi

Di samping mengungkap fakta baru, Curiosity juga mengungkap fenomena astronomi menarik di Mars. Misalnya, Curiosity menangkap citra gerhana yang muncul karena Phobos menghalangi Matahari.


Gerhana Matahari oleh Phobos seperti diambil robot Curiosity pada Kamis (13/9/2012). | NASA



Phobos | Wikipedia




Sumber :
Yunanto Wiji Utomo / kompas.com

Seperti Apa Planet Kita Kalau Dilihat dari Saturnus?

Posted by beye on Rabu, 14 Agustus 2013 , under | komentar (0)



Nah baru-baru ini tepatnya tanggal 19 Juli 2013 lalu wahana Cassini milik NASA yang mengorbit di sekitar planet Saturnus berhasil mengambil foto Bumi. Cassini mengambil foto Bumi dari jarak 898 juta mil (1,44 miliar kilometer) dari planet Bumi tempat kita tinggal ini. 



Dalam foto yang diambil Cassini tersebut, tampak sebagian dari planet Saturnus dan cincinnya. Dari kejauhan tampak planet Bumi yang hanya seperti sebuah titik bercahaya dalam kegelapan. Bumi tampak berwarna Biru pucat. Dan ternyata tidak hanya Bumi, Bulan sebagai satelit alami Bumi pun tampak pada foto itu. Bulan terlihat berwarna putih. Foto ini sendiri adalah hasil penggabungan dari 323 foto.

"Foto yang diambil Cassini itu mengingatkan kepada kita betapa kecilnya planet rumah kita ini dalam luasnya alam semesta," ungkap ilmuwan NASA, Linda Spilker.

Cassini mengambil foto Bumi saat Matahari sedang berada di belakang dari planet Saturnus. Sebab jika saatnya tidak tepat, cahaya Matahari bisa merusak detektor sensitif yang terdapat pada kamera Cassini dan itu hampir sama dengan cahaya Matahari dapat merusak retina mata manusia jika memandangnya secara langsung.

Sebelum foto ini, foto Bumi yang lain juga berhasil diambil oleh wahana MESSENGER pada jarak 61 juta mil (98 juta kilometer) dari Bumi. 


Sumber :
SD, Adi Saputro / www.astronomi.us

Dengan Alat Ini, Anda Aman dari Serangan Nyamuk

Posted by beye on , under | komentar (0)




Bagi Anda yang selalu jadi 'sasaran tembak' nyamuk karena termasuk orang dengan 7 faktor - baca lagi artikel sebelumnya di sini, bersiaplah dengan alat baru pengacau radar nyamuk. Alatnya cukup sederhana, ditempel di pakaian Anda.

Nama alatnya Kite Patch. Benda ini mampu menyamarkan "bau" CO2 yang dikeluarkan oleh tubuh manusia.

werd.com

Dikembangkan oleh Grey Frandsen, Michelle Brown, dan Torrey Tayanaka dari Olfactor Laboratories. Mereka terinspirasi menciptakan alat ini setelah membaca hasil penelitian Anandasankar Ray dan rekannya dari University of California Riverside yang dipublikasikan di Nature pada Juni 2011. Penelitian ini mengungkapkan tiga bahan kimia yang bisa mengganggu "radar penerima CO2" nyamuk.

Ketiga bahan kimia ini bekerja dengan cara yang berbeda untuk mengusir nyamuk. Bahan kimia pertama meniru karbon dioksida dan mampu digunakan untuk menjauhkan nyamuk dari manusia dan perangkap serangga.

Uji coba di laboratorium

Aplikasi Kite Patch di Uganda / indiegogo.com
 
Bahan kimia kedua menjadikan nyamuk tidak dapat mendeteksi CO2 sama sekali. Dan yang ketiga justru mengubah kemampuan radar nyamuk yang sensitif terhadap CO2 sehingga membuat nyamuk tersebut merasa bingung.

Namun Anda harus bersabar, karena langkah Frandsen dan timnya saat ini sedang mencari dana melalui situs web "indiegogo" untuk melakukan uji lapangan di Uganda. Jika pengujian ini berhasil, mereka akan mulai memproduksi Kite Patch secara massal dan mendistribusikan secara global dimulai dari AS.







Sumber:
kompas.

Related Posts with Thumbnails