Latest News

INILAH PARA JUARA KONTES DESAIN MOBIL FERRARI

Posted by beye on Sabtu, 12 November 2011 , under | komentar (0)



Baru-baru ini sebuah kontest untuk mencari sebuah model desain mobil ferrari untuk digunakan suatu saat sebagai mobil konsep yang bertajuk "Ferrari World Design Contest 2011", kontes ini sendiri dipelopori oleh pihak Ferrari sendiri.

Banyaknya animo dan persaingan desain yang bagus membuat mereka kebingungan memilih pemenang, namun akhirnya sang pemenang pertama jatuh pada seorang pemuda asal Korea Selatan bernama Kim Cheong Ju. nah bagaimana desain mobil tersebut? silahkan simak aja dibawah ini ya, yang sudah apasih.com siapkan kepada kalian.

Eternita, desain pilihan nomor satu para juri



Xezri, membawa Samir Sadhikov dari IED, Turin, Italia menjadi juara ke dua.



Karya Henry Cloke dan Qi Haitao dari London Royal College of Arts di atas menjadi juara ketiga.



Dan tidak lupa hasil desain mobil ferrari dari peserta lainnya..






Para Pemenang...

 
 
kaskus.us 

Inilah 10 Film yang Menggambarkan Orang-orang Jenius

Posted by beye on , under | komentar (0)





Jenius didefinisikan sebagai orang memiliki kapasitas alami di bidang intelektual. Banyak film menggambarkan orang-orang jenius dengan keahlian masing-masing, apakah itu matematika, ilmu pengetahuan, seni atau musik. Berikut adalah 10 film brilian yang menggambarkan 10 "kejeniusan" yang berbeda. Sebagian besar film didasarkan pada kehidupan karakter dan bagaimana kemampuan mereka masuk ke dalam kehidupan mereka dan kehidupan orang-orang di sekitar mereka. Mayoritas dari mereka didasarkan pada orang yang nyata.

10. Seni
Pollock (2000)

Film ini menceritakan tentang karier dan perjuangan dengan alkoholisme serta resepsi untuk pekerjaannya. Jackson Pollock adalah seorang pelukis abstrak Amerika yang meninggal pada tahun 1956, pada usia 44. Ia terkenal karena lukisan ekspresionisnya yang dilukis di kanvas besar, yang biasanya dibentangkan di lantai. Bukannya lukisan yang ia buat, ia hanya melempar cat kanvas dan mengolesi kanvas. Dia berjuang dengan alkohol sepanjang hidupnya, dan pada akhirnya alkohol menjadi penyebab kematiannya dalam kecelakaan mobil yang dikendarainya dalam keadaan mabuk. Pollock Film ini dirilis pada tahun 2000 dan aktornya antara lain Ed Harris dan Marcia Gay Harden. Harden memenangkan Academy Award untuk perannya sebagai istri Jackson, Lee Krasner.

9. Autisme
Rain Man (1988)

Sebagian orang pasti akrab dengan Film ini, "Rain Man" memenangkan 4 Oscar pada tahun 1989, termasuk satu untuk Aktor Terbaik, Dustin Hoffman. Dalam film ini Hoffman berperan sebagai Raymond, sarjana autis yang cacat. Raymond memiliki kecerdasan dan keahlian yang bertentangan dengan alam secara keseluruhan. karakter Raymond di film ini diambil pada seseorang di dunia nyata yang bernama Kim Peek, yang dianggap sebagai sarjana paling cemerlang di dunia. Peek dapat membaca 2 halaman buku dalam waktu sekitar 10 detik dengan matanya. Mata kirinya dapat membaca halaman yang berada di sisi kiri buku dan mata kanannya dapat membaca halaman yang berada di sisi kanan buku. Dia bisa mengingat 98% dari informasi ini. Selain terkenal sebagai "speed calculator", dia juga bisa mengingat lebih dari sekitar 12.000 buku-buku tentang geografi, sejarah, sastra, dll. Dia juga dapat mendeklarasikan hari atau tanggal dalam sejarah.

Tapi pada dasarnya film ini bukan menceritakan kehidupan Kim Peek, tetapi menceritakan tentang charlie, adik Raymond (diperankan oleh Tom Cruise), yang menemukan saudaranya setelah ayah mereka meninggal dan meninggalkan warisan jutaan dolar untuk Raymond. Pada awalnya Charlie hanya menggunakan kemampuan Raymond untuk keuntungan sendiri, tetapi seiring waktu berjalan, Charlie berubah menjadi mencintai kakaknya Raymond. Di film ini, akting Dustin Hoffman sangat sempurna dan cemerlang.

8. Catur
Searching for Bobby Fischer (1993)

Robert James Fischer dianggap sebagai salah satu pemain catur terbaik sepanjang masa, dengan prestasi legendaris, termasuk menjadi grandmaster termuda pada usia 15. Film ini menceritakan Joshua Waitzkin, anak ajaib yang mengikuti jejak Bobby Fischer. Di film ini, Waitzkin dimainkan oleh Max Pomeranc. Dia ditemukan sebagai pemain catur yang memiliki bakat alami. Pada film ini dia diasuh oleh instruktur yang ketat. Yosua Waitzkin mulai bermain catur pada usia 6 tahun. Da telah memenangkan 8 gelar individu dan 7 kejuaraan tim.

7. Kecerdasan
Little Man Tate (1991)

Little Man Tate adalah sebuah film yang disutradarai dan dibintangi oleh Jodie Foster. Film ini menceritakan kisah seorang anak jenius, Fred Tate (7 tahun) yang memiliki bakat piano, jenius dalam hal matematika dan juga dunia artis. Film ini berfokus pada usaha Fred untuk menyesuaikan dirinya di masyarakat, meskipun kecerdasannya menjadi ketegangan psikologis antara dirinya dan ibunya.

6. Matematika
A Beautiful Mind (2001)

A Beautiful Mind didasarkan pada sebuah buku dengan judul yang sama. Baik film dan novel ini menceritakan kisah tentang ahli matematika pemenang Hadiah Nobel dan Economist, John Forbes Nash. Awalnya, Tom Cruise ditetapkan untuk memainkan peran utama, tapi Crowe dipilih setelah Ron Howard (Sutradara) melihat penampilannya di Gladiator. Film ini mengambil sebagian besar kehidupan Nash, termasuk waktu di Princeton University. Kisahnya meliputi keberhasilan dan keputusasaan Nash. Film ini memenangkan 4 Academy Award, termasuk Best Picture.

5. Musik
Amadeus (1984)

Amadeus dianggap sebagai salah satu film drama musikal terbaik yang pernah dibuat. Hal ini ditandai dengan menjadi nominasi untuk 53 award dan memenangkan 40 dari 53 award tersebut, termasuk 8 Academy Award. Film ini diambil dari kehidupan komposer Antonio Salieri dan Wolfgang Amadeus Mozart, keduanya tinggal di Wina, Austria, di akhir abad ke-18. Mozart adalah seorang anak ajaib yang menulis untuk keyboard dan biola pada usia 5 tahun. Di sepanjang hidupnya dia telah menghasilkan lebih dari 600 karya dan dianggap sebagai musisi, anak berbakat alami terbesar sepanjang masa.

4. Fisika
Dark Matter (2008)

Dark Matter adalah sebuah film yang didasarkan pada kisah Gang Lu, pelaku pembunuhan di University of Lowa. Film ini berfokus pada waktunya di universitas, daripada kejahatan yang ia lakukan. Karakter, Liu Xing, adalah mahasiswa Cina berbakat muda yang diterbangkan ke Amerika untuk belajar fisika di tingkat yang lebih tinggi. Sementara di sana, ia bergabung dengan kelompok kosmologi yang dipimpin oleh Jacob Reiser, seorang ahli kosmologi terkenal. kecemerlangan Xing menjadi jelas dan ia dengan cepat diambil di bawah sayap profesor. Ketika mereka mencoba untuk membuat sebuah model bagi asal usul alam semesta. Namun, Xing menjadi terobsesi dengan studi 'Dark Matter', suatu zat yang tak terlihat bahwa ia percaya bentuk alam semesta dan segala isinya, bertentangan dengan teori Reiser's. Karakter pertempuran egonya, dan perbedaan budaya ketika mencoba untuk mempertahankan kemampuan alami nya bagi ilmu pengetahuan, serta kewarasannya.

3. Kekuatan supranatural
Powder (1995)

Sean Patrick Flanery memainkan anak albino yang dijuluki "Powder", yang memiliki kecerdasan luar biasa, telepati dan kekuatan paranormal. Nama asli Anak ini adalah Jeremy Reed. Ibunya disambar petir ketika dia masih dalam kandungan. Anak ini juga memiliki kemampuan untuk merasakan perasaan orang lain di sekitarnya. Jeff Goldblum dan Mary Steenburgen membintangi film ini.

2. Time Travel
The Time machine (1960 & 2002)

Ada dua film Time Machine (1960 dan 2002), masing-masing berdasarkan novel HG Wells dengan nama yang sama. Meskipun di film protagonis memiliki nama, dalam buku ia hanya dikenal sebagai 'Time Traveler', penemu muda berbakat dari New York (versi 2002) Setelah kekasihnyanya dibunuh oleh perampok, ia membangun sebuah mesin waktu yang akan memungkinkan dia untuk kembali untuk menyelamatkan kekasihnya. Setelah menyadari bahwa tidak peduli berapa kali ia kembali, pacarnya selalu terbunuh dengan cara yang berbeda sampai ia pergi ke masa depan tahun 2037. Setelah pingsan, ia terbangun di tahun 802.701 dimana manusia telah kembali ke cara primitif hidup dan tersiksa oleh monster kera yang disebut 'Morlocks'. Walupun film ini tidak brilian, setidaknya novel ini adalah "wahyu" yang memperkenalkan ide tentang time travel.

1. Writing
Finding Forrester (2000)

Film ini menceritakan tentang seorang remaja negro muda, Jamal Wallace, yang memiliki bakat alami yang besar untuk menulis. Ia bertemu pada seorang penulis tua bernama William Forrester, (diperankan oleh Sean Connery). Pada akhirnya persahabatan mereka tumbuh, masing-masing menemukan diri mereka dengan cara yang berbeda. Meskipun Jamal adalah seorang mahasiswa sangat berbakat, tekanan mendorong dia untuk tampil di tingkat rata-rata di sekolah, sedangkan Forrester membantunya memberinya semangat untuk sastra.

Sumber : listverse.com

Seekor Burung pun Sanggup Terbang Tembus Topan Badai

Posted by beye on , under | komentar (0)



Banyak burung melakukan migrasi dengan terbang sejauh ribuan kilometer per tahun. Mereka terbang di atas daratan, lautan, dan ternyata, mereka mampu terbang menembus badai.

Bryan Watts, Director of the Center for Conservation and Biology, College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat memasang pemancar satelit pada burung Whimbrel untuk memantau pergerakan mereka selama 3 tahun terakhir.


“Burung-burung ini beranak pinak di kawasan dekat Kutub Utara. Padahal mereka mencari makan di kawasan utara Amerika Selatan, di sekitar Venezuela, dekat hutan Amazon,” kata Watts, seperti dikutip dari NPR News.

Artinya, kata Watts, mereka terbang jarak jauh dan melakukan penerbangan luar biasa. “Burung yang kami lacak bahkan terbang 3.500 mil (sekitar 5.600 kilometer) nonstop dari Virginia ke Alaska,” ucapnya. “Ia bergerak dengan kecepatan 55 sampai 65 kilometer per jam selama 5 hari penuh,” kata Watts.

Watts menyebutkan, selama ini, para pengamat ingin mengetahui apa yang terjadi jika burung ternyata dihadang badai. Untuk itu, mereka memasang pelacak pada burung yang lebih besar, yakni burung Hope. Agustus lalu, burung yang dipasangi pelacak terbang dari Nova Scotia dan berjumpa dengan badai tropis Gert.


“Saat berpapasan dengan badai Gert, selama 27 jam, kecepatan terbang mereka turun ke 14 kilometer per jam karena menantang arah angin,” kata Watts. “Setelah berhasil menembus badai, kecepatan terbang menjadi 145 kilometer per jam karena mendapat dorongan dari angin badai,” ucapnya.

Watts menyebutkan, peneliti belum menemukan apa yang membuat mereka mampu terbang secara luar biasa seperti itu. Yang pasti, saat tiba di tempat mereka mencari makan, bobot mereka hanya 350 sampai 400 gram. Namun selama 3 minggu berikutnya, bobot mereka naik 50 persen.

“Saat mereka pulang ke tempat asal, mereka bagaikan seperti bola lemak yang menyimpan energi dalam jumlah cukup untuk melakukan penerbangan jarak jauh,” ucap Watts. “Tampaknya faktor ini yang memungkinkan mereka mampu menghadapi angin kencang selama itu,” ucapnya.

Watts menyebutkan, satu hal yang mereka pelajari setelah memasang pemancar satelit pada burung ini adalah, meski burung mengarungi jarak yang demikian jauh, namun mereka bergantung pada satu kawasan kecil di daerah spesifik.

“Jika kita merusak ekologi di kawasan tersebut, maka itu akan memberi dampak yang sangat besar bagi populasi burung yang memanfaatkan kawasan tersebut untuk berkembang biak,” ucapnya.

Sumber :

Keindahan Dunia mikroskopis yang Menakjubkan

Posted by beye on , under | komentar (0)





Sejak mikroskop diperkenalkan di abad 19, penggunannya hanya terbatas di bidang keilmuan saja. 

Sesungguhnya, banyak keindahan di dunia renik yang bisa terlihat dan membuktikan kebesaran Tuhan bahwa ternyata, sekecil apa pun ciptaan tetap dirancang sesempurna mungkin. 





Foto : mikroskop tahun 1839



Di bawah ini contoh hasil karya artistik sebuah mikroskop:

1. diatom - sebuah alga bersel tunggal yang dikelilingi oleh dinding sel seperti gelas.







2. Tulang lumba-lumba dilihat dengan filter khusus sehingga menghasilkan warna-warna cerah.







3. Pembuluh darah kecil dari jaringan lidah.






4. Daun pakis dilihat dengan mikroskop







5. Diatom sebuah mentimun laut







6. Sebutir salju di bawah mikroskop





Sumber : livescience

Ilmuwan Berhasil Menciptakan ‘Karpet Terbang’

Posted by beye on , under | komentar (0)



Headline
Para peneleti berhasil membuat ‘karpet terbang’ di sebuah laboratorium di Amerika Serikat (AS). Kini, manusia bisa terbang ala Aladdin. Seperti apa?
Para ilmuwan ini telah membuat miniatur karpet tersebut yang terbuat dari plastik konduktif fleksibel. Dalam hasil studi Princeton University yang diterbitkan di Applied Pgysics Letters, protorip karpet 4 inci ini mampu bergerak dengan kecepatan setengah inci per detik.
Menurut peneliti, perbaruan rancangan yang didorong gelombang arus listrik kantung tipis udara dari depan hingga belakang bagian bawah mampu meningkatkan kecepatan kecepatan karpet ini hingga 1 meter per detik.
“Kesulitan terletak pada kendali ketepatan gerak karpet yang bisa rusak pada frekuensi tinggi,” papar kepala peneliti James Sturm. Di sisi lain, kata ‘terbang’ pada karpet ini masih masuk tanda petik karena perangkat ini cenderung melayang dibanding terbang seperti pesawat.
“Perangkat ini masih harus dekat permukaan tanah karena udara akan diperangkat antara karpet dan permukaan tanah. Saat udara bergerak bersamaan karpet, pada dasarnya udara dipompa kembali,” tutup mahasiswa Noah Jafferis yang menciptakan perangkat ini.


okezone.com

Sosok Iblis Ditemukan di Lukisan Giotto

Posted by beye on , under | komentar (0)









Lukisan Giotto di basilika Santo Franciscus Asissi


Sosok iblis yang tersembunyi di balik awan dalam lukisan Giotto di Basilika Santo Franciscus Asissi.
Para pekerja restorasi telah menemukan sosok iblis tersembunyi di balik awan dalam fresco atau lukisan dinding karya Giotto di Basilika Santo Franciscus Asissi di Italia, demikian diungkapkan para pejabat gereja, Sabtu (5/11/2011), seperti dikutip The Sunday Times.

Sosok iblis itu tersembunyi dalam detail awan yang berada di bagian atas fresco nomor 20 dalam rangkaian gambaran kehidupan Santo Franciscus yang dilukis Giotto pada abad ke-13.

Gambar iblis itu ditemukan ahli sejarah seni Italia, Chiara Frugone. Sang iblis digambarkan samar-samar dengan hidung bengkok, senyum licik, dan tanduk gelap yag tersembunyi di antara awan-awan. Ia ditemukan di lukisan yang menggambarkan kematian Santo Franciscus.

Sosok iblis itu sedikit sulit dilihat dari lantai basilika, tetapi cukup mudah dikenali dalam foto dekat.

Sergio Fusetti, kepala restorasi basilika, mengatakan, Giotto mungkin tidak pernah berharap wajah iblis itu menjadi bagian utama fresco. Ia mungkin melukiskan sosok itu sekadar iseng atau untuk bersenang-senang saja.

“Giotto mungkin melukis wajah sang iblis untuk mengejek seseorang yang dikenalnya dan melukiskannya sebagai iblis,” kata Fusetti.

Adapun karya seni di basilika tempat Santo Franciscus dimakamkan itu terakhir kali direstorasi pada tahun 1997 setelah beberapa kali rusak akibat gempa bumi.



kaskus.us



Tengkorak Bergigi Aneh Koleksi Museum London

Posted by beye on , under | komentar (0)



Koleksi museum London ini terbilang aneh, yang aneh pada tengkorak ini klo diperhatikanpada susunan giginya, mungkin waktu kecil kita tahu klo gigi kita copot nanti tumbuh lagi, kebayang tidak klo susunan gigi anak anak seperti ini..? lihat tuh betapa banyak stok gigi yang belum keluar dari bagian atas dan bagian bawah gigi..beda banget dengan tengkorak orang dewasa..memang pantes di bilang tengkorak bergigi aneh.


 
 
http://aspal-putih.blogspot.com/2011/11/tengkotak-bergigi-aneh.html#ixzz1dRbur7oO

Christian the Lion: The True Tale of a London Lion

Posted by beye on Jumat, 11 November 2011 , under | komentar (0)






There once was a furniture shop on King’s Road in London, England. It was filled with most of the things you’d expect a normal furniture shop to carry: tables, desks, chairs and TV sets. But if you happened to look through the front window on a Sunday, you may have seen something rather unusual: a lion. And it wasn’t stuffed!


(All images in the story are courtesy of Derek Cattani / A Lion Called Christian Copyright 1971, 2009.)



Courtesy of Derek Cattani




Lion’s Tale


Courtesy of Derek Cattani


Christian the Lion became a furniture store pet when John Rendall and Ace Bourke bought him from Harrods Department Store in London in 1969. They’d visited the store’s “exotic animal” department with a friend, just for fun, when they saw the little lion cub in a small cage. They looked at each other and knew something had to be done.



Courtesy of Derek Cattani

They bought Christian for 250 guineas and took him back to their shop (which happened to be named the Sophistocat Furniture Shop). There, he was giving his own living space and a lion-sized large litter box, which he always used, in the basement. For exercise, Christian was allowed to run around in a nearby cemetery; every day he and his master went there to kick a soccer ball around.

Courtesy of Derek Cattani
Courtesy of Derek Cattani
Courtesy of Derek Cattani
Courtesy of Derek Cattani
1 2 3 4
Raising a Lion

Courtesy of Derek Cattani


John and Ace spent a lot of time taking care of Christian – raising a lion cub is a lot of work! He also ate a lot – four big meals a day. He also had a great sense of humor. He liked to sit in the shop window, still as a statue, and just when the people looking in thought he must be a stuffed lion, he’d slowly turn his head and totally freak them out!



Courtesy of Derek Cattani

Everyone loved Christian and he became a local celebrity. He was very well behaved and never hurt a soul. But he was very big and very strong (he was a real lion, after all) and as he grew (Christian weighed 35 pounds as a cub and, just one year later, he was a whopping 185 pounds!) it was clear that he couldn’t stay with his two young owners in their small London shop forever.

Courtesy of Derek Cattani

Christian Goes Home

What would become of Christian was eventually decided by a complete coincidence. Two actors who had starred in a movie about Africa wandered into the shop to buy a pine desk. They met Christian and told John and Ace that their film told the true story about a wildlife conservationist named George Adamson, who rehabilitated lions into the wild. They were sure that George would be able to help Christian.



Courtesy of Derek Cattani

John and Ace contacted George, who warned them that, even though he was willing to help, rehabilitating Christian, who had been born in a zoo in Britain, raised in London and never been to Africa in his life, may not work. Still, everyone was willing to take a chance on giving Christian the life he deserved, in the wilds of Africa with other lions.



Courtesy of Derek Cattani


At 12 months old, Christian was flown to Kenya in a specially made crate. John and Ace went with him. George met them and immediately took them to the Kora Reserve, where there was no human habitation. After they’d set up camp, George explained some of the challenges he thought they faced in rehabilitating Christian into the wilds of Africa. The main problem, he said, was thatwild lions live and hunt in prides, and it’s VERY hard for a new male lion to break into an existing pride. If Christian could not be accepted into an existing pride, he’d become a solitary “nomad” lion, and his chances of survival would be VERY slim.


Courtesy of Derek Cattani


To improve Christian’s chances, George planned to introduce him to the wild with another captive lion he was rehabilitating at the time named Boy. Boy had actually been one of the lions to star in the movie about George’s life (the film is called Born Free).


When Christian and Boy were introduced to each other, it was the first time Christian had seen another lion since he’d been a tiny baby at the zoo. He didn’t know how “normal” lions act when they meet each other, so he walked right up to Boy to say hello – Boy didn’t like that one bit! For the first few days, the two lions were separated by a safety fence that they could see but not make any physical contact through, and this is how they learned to like each other without risking them hurting each other.


At this point, John and Ace had to go back home to London. That meant leaving their beloved friend Christian behind. It was a sad goodbye, but George had lots of work to do to make sure Christian would be able to survive on his own in the wild. He kept working with the two lions every day, until they eventually established that Boy was the dominant one, meaning he was in charge. Once Christian learned that he had to respect Boy, the two were absolutely inseparable. That’s when George added a third lion – a female cub named Katiana – to the growing pride. Every day the three lions would go for a walk in the bush. Boy always went first, then Katiana and Christian was always at the rear. George walked behind them with a rifle in case he had to scare any other animals off. After all, these three tame lions still had to learn how to survive in the wild.

Courtesy of Derek Cattani

Wild Kingdom

There were all sorts of threats to the lions in the wild. But the biggest danger was the wild lions that stalked the reserve, which Boy was slowly fighting to establish as his pride’s territory. But then a tragedy occurred and Boy was killed. Everyone told George his “experiment” was over, but the wildlife expert refused to listen. Finally, in 1974, George wrote a letter to John and Ace in England, telling them that Christian’s new pride was established and their former pet was now a lion living in the wilds of Africa. He had learned to protect his territory and defend his little family (Katarina had given birth to her first litter of cubs) on his own. The pride was seen less and less by the humans at the reserve camp.


Hearing the good news, John and Ace decided to go back to Africa one last time, to see Christian in his new home and to say a final goodbye. George warned them that they were probably wasting their time. He hadn’t seen Christian in nine months (though he knew he wasn’t dead, as he would have heard reports of dead lion from the staff that regularly patrolled the reserve), and he felt that the London lion would likely never return as he was busy taking care of his new family.

But John and Ace decided to take the chance anyway. The made the long trip to the reserve and, when they finally arrived, George met them with incredible news: Christian had arrived the night before with his lionesses and his cubs. He was waiting for his human friends on his favorite rock just outside the camp.


What happened next is too incredible for words. Check out the video of Christian the lion’s reunion with his former human family:


A year later, Ace and John returned to Africa once more and were reunited with Christian again:


This video is the last record anyone has of Christian. After he’d come to see John and Ace one last time, no one ever saw him again.



Courtesy of Derek Cattani





A year later, Ace and John returned to Africa once more and were reunited with Christian again:






http://www.kidzworld.com/article/24196-christian-the-lion-the-true-tale-of-a-london-lion#ixzz1dSbNtxRL

Kisah Nyata yang Mengharukan Tentang Persahabatan Seekor Singa dan Manusia

Posted by beye on , under | komentar (0)



Tahukan Anda bahwa sebuah persahabatan tidak hanya terjalin antara manusia dengan sesamanya, tapi juga berlaku juga antara manusia dengan binatang? meskipun binatang buas sekalipun. Kisah ini terjadi pada sekitar tahun 70-an, seekor singa bernama Christian berhasil menggemparkan dunia dengan kisahnya. Kejadian ini nyata membuktikan bahwa seekor singa juga mempunyai perasaan yang sama seperti manusia. Mereka juga mempunyai memory, kasih sayang, cinta, rasa rindu, dan kesetiaan.

Christian, adalah seekor singa yang menjadi korban kejahatan pemburu gelap yang kemudian diperdagangkan di blackmarket. Sedangkan nasib ibu atau saudara Christian tidak diketahui, apakah mereka juga ikut tertangkap, mati terbunuh atau sudah terjual. Pada tahun 1969, Anthony Bourke dan John Rendall, dua orang sahabat, terkejut ketika menemukan seekor anak singa berusia 6 bulan di toko binatang Harrods yang sedang kesepian.

Kondisi bayi singa itu sungguh menyedihkan. Si singa kecil dikurung didalam sebuah jeruji yang sangat kecil. Suara parau sang singa kecil menyentuh hati kedua pemuda ini dan lalu mereka membelinya dan memberikan nama Christian pada bayi singa itu. Mereka bertiga akhirnya tinggal disebuah rumah di London.

Mereka pun memperlakukan Christian seperti layaknya sahabat. Mereka bermain bola bersama, makan bersama, nonton bersama dan jalan-jalan bersama. Mereka menjadi tiga sosok sahabat yang tidak terpisahkan.




Sembilan bulan telah berlalu,Christian telah menjelma menjadi singa dewasa dan lingkungan rumah mereka yang kecil tidak cocok lagi untuk Christian untuk berlari-lari bebas seperti halnya waktu ia kecil dahulu. Ditambah lagi dengan tetangga yang resah dan ketakutan melihat sosok seekor singa jantan besar berlarian dilingkungan mereka.

Walaupun sedih, Anthony dan John memutuskan untuk mengembalikan Christian ke Kenya, Afrika, di bawah pengawasan ahli hewan buas untuk mengembalikan sifat alami Christian dari “sahabat manusia” menjadi hewan buas. Jika tidak, Christian tidak akan dapat bertahan di alam liar.




Selama beberapa bulan Christian di karantina di Afrika, para ahli meminimalisir kontak Christian dengan manusia terutama dengan pemiliknya. Selama itu, kata pengawas, Christian tampak murung dan sedih. Berkali-kali ia mengaum parau, mungkin memanggil kedua majikan sekaligus sahabatnya, John dan Anthony.

Meski John dan Anthony ingin menemui Christian, akan tetapi para pakar melarangnya, karena dikhawatirkan dengan keahdiran mereka berdua akan menghambat proses pengembalian insting alamiah singa sebagai hewan liar yang bebas dan ganas.

Akhirnya, Christian berhasil menemukan jati dirinya sebagai seekor singa jantan. Ia pun dilepaskan kealam bebas walaupun masih dipantau oleh para ahli. Awalnya, Christian mendapat kesulitan untuk menentukan wilayah kekuasaannya dan membuat kawanan, karena beberapa wilayah tersebut sudah dikuasai oleh singa jantan lainnya dan tentu saja para singa betina sudah dikuasai oleh para singa jantan tersebut. Christian memerlukan kawanan.


Karena seekor singa tidak akan bisa bertahan tanpa kawanan. Biasanya, dalam satu kawanan sedikitnya terdiri dari 3 ekor singa, satu jantan dua betina. Karena dalam kawanan hanya boleh dipimpin oleh satu singa jantan. Semakin kuat sang singa jantan tersebut maka akan makin banyak singa betina lainnya yang bergabung dalam kawanan tersebut. Oleh karena itu, para singa jantan muda akan keluar dari kelompok mereka lalu membentuk kelompok sendiri diwilayah lain.


Inilah masalah pertama yang harus dihadapi oleh Christian. Ia harus membentuk kelompok agar bisa bertahan hidup. Karena, singa tidak akan bisa berburu jika hanya sendirian. Perburuan yang mereka lakukan selalu dalam bentuk kerjasama kelompok yang kompak.


Para singa betina bertugas untuk mengejar dan membuat lelah si mangsa, jika mangsa sudah lelah maka sang singa jantan akan melakukan tindakan final untuk mengakhiri nyawa si mangsa dengan menggigit leher si mangsa sampai mati atau istilahnya “finishing touch”. Semakin besar jumlah singa dalam satu kawanan, maka semakin besar ukuran mangsa mereka. Seperti badak, gajah, banteng dan lain-lain.

Karena itu, John dan Anthony sangat mencemaskan keadaan Christian. Karena tidak jarang para singa jantan akan mati dalam perkelahian untuk mendapatkan atau mempertahankan wilayah atau kawanan dengan singa jantan lainnya, atau mati terbunuh oleh mangsa buruan mereka.




Jika singa jantan tidak hati-hati dan menyerang si mangsa tidak tepat pada waktunya (si mangsa belum kelelahan) maka tak ayal lagi singa jantan akan mati di banting ke batu ketika mangsanya memberontak saat lehernya digigit oleh si singa jantan, diinjak atau bahkan diserang balik oleh sang mangsa.

Akan tetapi, laporan-laporan yang mereka dapatkan dari si pengawas menunjukkan perkembangan positif yang berhasil dicapai oleh Christian. Christian berhasil mendapatkan kawanan dan bahkan ia berhasil menjadi ketua kawanan yang dalam jumlah yang besar. Perkembangan Christian ini sedikit melegakan hati John dan Anthony.


Setelah satu tahun lebih mereka berpisah, akhirnya John dan Anthony memutuskan untuk mengunjungi Christian di Afrika. Ahli singa dan pengurus hutan lindung di Afrika mengatakan bahwa Christian sudah hidup bersama singa-singa lainnya dan menjadi liar. Dan pengurus hutan lindung itu juga mengatakan kalau Christian tidak akan mengenali John Rendall dan Anthony. Mereka semua melarang mereka untuk menemui Christian, Karena singa itu tidak akan mengingat mereka lagi dan tentu saja akan mengakibatkan kematian terhadap mereka berdua.


Anthony dan John tidak perduli. Mereka percaya, ikatan persahabatan yang terjalin diantara mereka bertiga sangat dalam. Christian tidak akan menyerang mereka. Christian pasti tetap mengingat mereka berdua.Akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat ke hutan Afrika dan mencari Christian. Salah satu orang teman mereka tertarik dengan kejadian ini dan ikut bersama mereka untuk merekam pertemuan ini.






Setelah berjam-jam pencarian, akhirnya mereka menemukan Christian di dekat daerah pegunungan. Teman John dan Anthony yang merekam kejadian ini menahan nafas tegang ketika ia melihat sesosok singa jantan besar yang berlari menuruni batu-batuan disana dan berlari kearah mereka. Hanya John dan Anthony saja yang bersikap santai dan tersenyum lebar seolah-olah menyambut teman lama mereka.


Sesuai dengan dugaan John dan Anthony, Christian tidak melupakan mereka. Christian terlihat sangat gembira melihat dua wajah manusia yang sangat ia cintai itu. Christian bergantian memeluk dan mencium wajah John dan Anthony bertubi-tubi sebagaimana kebiasaannya ketika ia kecil dahulu. Ketiga sahabat dekat itu akhirnya bertemu kembali dan mereka bercengkerama satu sama lainnya selama berjam-jam dan kemudian berpisah lagi.









Coba lihat video rekaman kejadian waktu mereka bertemu kembali itu,bener-bener mengharukan.

http://www.kidzworld.com/article/24196-christian-the-lion-the-true-tale-of-a-london-lion


Related Posts with Thumbnails