Latest News

Elysia chlorotica, Inilah Siput Tenaga Surya

Posted by beye on Sabtu, 14 September 2013 , under | komentar (0)



Elysia chlorotica adalah siput laut berwarna hijau cerah yang sangat unik. Siput laut ini memiliki kemampuan fotosintesis, yaitu kemampuan untuk membentuk zat makanan dengan menggunakan energi matahari. 



Elysia chlorotica. (creepyanimals.com)


Kloroplas

Elysia chlorotica yang masih muda hidup dengan memakan ganggang laut selama sekitar dua minggu. Setelah itu, siput laut ini tidak perlu lagi makan untuk terus hidup. 

Setelah diteliti, ternyata siput laut ini menyimpan kloroplas dari ganggang-ganggang yang dimakannya, dan menggunakannya untuk membentuk energi. Kloroplas adalah sel hijau yang terdapat pada tumbuhan yang berfungsi mengubah sinar matahari menjadi energi. 


Siklus kehidupan Elysia chlorotica. (jeb.biologists.org)


Kemudian munculah satu misteri. Kloroplas memiliki DNA yang menghasilkan hanya 10% dari protein-protein yang dibutuhkan untuk berfotosintesis. Gen-gen lain untuk menghasilkan 90% sisanya dapat ditemukan di DNA nuklir ganggang. 

Jadi pertanyaannya adalah bagaimana kloroplas dapat bekerja dengan baik di sel hewan yang tidak memiliki gen-gen ini?


Pencuri Gen

Di satu eksperimen, diambillah gen kloroplas dari ganggang Vaucheira litorea, salah satu ganggang favorit siput ini. Kemudian para peneliti membandingkan dengan DNA si siput laut dan menemukan adanya gen yang identik dengan salah satu gen vital yang dimiliki ganggang laut. 

Para peneliti hanya dapat berasumsi bahwa siput laut ini mungkin mencuri gen dari makanannya. Fenomena ini dinamakan kleptoplasty. Dengan gen-gen curian ini, siput dapat memproduksi protein-protein yang diperlukan untuk menjaga keaktifan kloroplas. 

Di penelitian berikutnya, para peneliti menemukan gen ini juga terdapat di sel seks Elysia chlorotica. Artinya, kemampuan untuk berfotosintesis ini juga diturunkan ke generasi selanjutnya.



Siklus kehidupan Elysia chlorotica. (pnas.org)



Manusia Berfotosintesis?

DNA berpindah dari satu spesis ke spesis lainnya tidaklah jarang terjadi, tetapi biasanya DNA tidak dapat berfungsi di spesis lainnya. Kasus yang terjadi pada siput laut ini sangatlah unik, karena gen ganggang dapat berfungsi dengan baik di dalam tubuh siput. 

Ini tidaklah mungkin terjadi pada manusia, memiliki kemampuan berfotosintesis setelah memakan banyak ganggang laut. Karena sistem pencernaan kita akan menghabiskan semuanya: kloroplas dan DNA-nya.


Sumber :
bacabaca.co.id

Fungsi Tidur Ternyata Bisa untuk Menambah Sel Otak

Posted by beye on Jumat, 13 September 2013 , under | komentar (0)




Hasil penelitian mengungkap pentingnya tidur, yakni meningkatkan produksi sel pembuat materi pelapis bernama myelin yang melindungi sirkuit otak.

Universitas Wisconsin melakukan penelitian menggunakan tikus. Dr Chiara Cirelli dan para koleganya dari Universitas Wisconsin menemukan bahwa tingkat produksi sel pembuat myelin, oligodendroctytes, berlipat ganda saat tikus tidur.
 
 
Peningkatan ini sangat tinggi saat seseorang memasuki tahapan tidur bermimpi atau REM (rapid eye movement) dan didorong oleh gen.

Kebalikannya, gen yang berperan dalam kematian sel dan respon terhadap stress diaktifkan ketika tikus dipaksa untuk terjaga. Hasil penelitian mereka diterbitkan di Journal of Neuroscience.

Dari hasil ini diketahui, selain kita membutuhkan tidur untuk beristirahat dan agar pikiran kita berfungsi dengan baik ternyata ada proses biologi yang terjadi. Jadi jangan remehkan waktu tidur, ya.





Sumber:
bbc.

Inilah Kisah 26.000 Hektar Rumah Kaca di Spanyol

Posted by beye on Rabu, 11 September 2013 , under | komentar (0)




Di tahun 1960 hingga 1970an sebuah pantai di barat daya Almeria, Spanyol begitu gersang. Namun sejak 1980an segalanya berubah. Daerah ini sekarang jadi penghasil sayuran yang memasok setengah dari permintaan pasar di Eropa. Berbagai jenis tomat , paprika , mentimun dan zucchinis diproduksi di sini.

Area seluas 26.000 hektar di pantai ini jadi daerah pertanian berkat rumah kaca. Jangan bayangkan rumah tempat bercocok tanam terbuat dari kaca, melainkan lahan sederhana beratap dan dinding plastik semata. Akibatnya suhu di dalam bisa mencapai 45 derajat Celcius.


Suhu yang begitu tinggi menyebabkan penduduk lokal enggan bekerja sebagai buruh tani. Alhasil, pekerja imigran gelap dari Afrika dan Eropa Timur jadi pilihan. Sayang, kondisi di sini sangat memprihatinkan. Jarang terdapat toilet di pertanian ini, buruh tani hidup dengan ekonomi sulit hanya digaji 33 hingga 36 euro per hari. Pelacuran pun meningkat.

Di sisi keuntungan dagang dan industri, rumah kaca Almeria memang menguntungkan. Selain jadi pemasok sayuran di Eropa, kemunculan rumah kaca berbahan plastik menguntungkan pabrik plastik. Kota-kota di sekitar Almeria yang menjadi produsen plastik meraup untung tanpa memperhatikan lingkungan. Limbah plastik menutupi sungai-sungai, secara tak langsung mencemari laut.




Kematian ikan paus sperma yang terdampar di pantai selatan Spanyol beberapa bulan lalu ditengarai terkait dengan rumah kaca Almeria. Pemerhati lingkungan menemukan indikator kira-kira 17 kg limbah plastik dibuang ke laut sekitar.

Uniknya, kehadiran ribuan hektar 'rumah plastik' menurunkan suhu setempat rata-rata 0,3 derajat Celsius setiap 10 tahun sejak tahun 1983. Sementara wilayah Spanyol lainnya justru meningkat.




Sumber:
Photo credit: Edward Burtynsky
amusingplanet.

Di Tengah Gunung Berapi ini Ada Oasis

Posted by beye on Selasa, 10 September 2013 , under | komentar (0)




Oasis di tengah gurun pasir sudah biasa, tapi kalau di tengah kawah gunung baru luar biasa. Letaknya berada di tengah Waw Al Kabir dan Al Kufrah. Lebar kawasan hijau ini sekitar 4 km dengan dikelilingi 10-20 km padang debu hitam bekas letusan yang sudah terjadi ratusan tahun lalu.
 

Di dalam kawah ini, ada 3 danau air asin yang dikelilingi dengan pepohonan nan hijau. Sungguh cantik dipandang mata. Nama Waw an Namus sendiri berarti Oasis Nyamuk, karena banyak sekali nyamuk di dekat danau.

Oasis ini mulai dikenal dunia setelah dikisahkan oleh Karl Moritz von Beurmann (1862) dan Gerard Rohlfs (1881). Setelah itu, makin banyak orang yang kebetulan melewati, atau sengaja datang ke sana. Jika kondisi politik di Libya sudah kembali normal, pasti banyak wisatawan yang datang ke oasis ini.
 

Selain hanya berkunjung dengan menggunakan unta, atau kendaraan bermotor, ada juga turis yang bermalam di sana. Jika ingin bermalam, Anda harus membawa anti nyamuk dan pakaian tidur yang tertutup karena di sana terkenal sekali sebagai kerajaan nyamuk.



Sumber:
detik

Related Posts with Thumbnails